Sunday, January 18, 2026

Benarkah Emas Overvalued?

"Emas adalah uang. Segala sesuatu yang lain adalah kredit", begitulah kira-kira ungkapan dari seorang JP Morgan untuk menggambarkan betapa menariknya emas. Belakangan ini harga emas memang melonjak hebat, bahkan hingga menyentuh angka tertingginya dan mungkin saja masih akan terus naik ke depannya.

Melihat fenomena ini saya seketika teringat lagi dengan fenomena booming-nya tanaman Gelombang Cinta dan Monsteraa beberapa tahun lalu. Ketika itu tanaman kesukaan ibu-ibu tersebut mendadak jadi hits pembicaraan nasional, lalu entah bagaimana orang-orang banyak yang ingin membelinya. Karena demand atau permintaan yang begitu tinggi, harganya lalu meroket gila-gilaan. Saat itu banyak orang sampai bertanya-tanya, sebenernya berapa sih harga yang wajar untuk tanaman seperti itu? Masa iya sebegitu mahalnya? Bukan kah orang-orang bisa membudidayakan tanaman itu? Seharusnya nggak semahal itu dong. 

Singkat cerita akhirnya banyak yang menyadari, ternyata memang sulit menentukan harga wajar untuk komoditas ini. Mungkin karena yang menjadi ukuran terbilang samar-samar (tidak ada satuan penilaian baku yang jelas antara pihak satu dengan lainnya). Kalau Menurut si A nilai dari tanaman ini 80 poin, bisa saja menurut B nilai tanaman itu hanya 60 poin. Intinya sangat beragam perspektifnya sehingga menjadi serba tidak pasti, kurang lebih seperti itu.

Lalu seiring waktu, booming tanaman itu pun berakhir. Ibarat kata, bubble-nya sudah pecah. Pelan-pelan demand-nya menurun dan berdampak pula pada perubahan harga yang perlahan menjadi sedikit lebih wajar.

Di sisi lain, emas jelas berbeda dengan tanaman gelombang cinta. Emas sering dijuluki "God’s Money" atau "Uangnya Tuhan" yang memiliki kekuatan magis, spiritual dan gaib, serta bisa menyimpan energi finansial, berbeda dengan uang ciptaan manusia yang rentan terhadap inflasi. Sejak zaman para nabi hingga zamannya Rockefeller, emas sudah diamini oleh umat manusia sebagai "barang berharga" sehingga ia (emas) tidak perlu sulit-sulit menjelaskan jika dirinya berharga. Nilai emas juga cenderung stabil.
Namun, lain dulu lain sekarang. Peralihan zaman nyatanya memberikan beberapa dampak pada berbagai hal, tak terkecuali emas. Di masa lalu emas sifatnya lebih bernilai sebagai alat tukar yang umum, mirip-mirip dengan uang saat ini. Namun posisi emas hari ini lebih bergeser ke arah komoditi. Maka tidak heran, sangat memungkinkan juga jika sewaktu-waktu emas menjadi Overvalued alias melebihi harga wajarnya jika demand yang tinggi terjadi, sebagaimana yang terjadi pada booming-nya Gelombang Cinta.

Lalu yang jadi pertanyaan adalah: apakah harga emas yang melonjak tinggi belakangan ini masih berada dalam nilai wajar? Atau jangan-jangan sudah overvalued? Mengukur harga wajar suatu komoditi itu memang sulit karena ada begitu banyak hal kompleks yang menyertainya, selain supply-demand tentunya. Emas berbeda dengan instrumen lain (misal: saham) yang cenderung bisa dihitung harga wajarnya. 

Menentukan harga wajar komoditi umumnya tidak bisa sesederhana itu karena selain melihat supply-demand, kita juga harus melihat biaya produksi, biaya penyimpanan, transportasi, hingga ke faktor eksternal lain seperti kondisi geopolitik nasional hingga global.

Singkatnya, karena begitu sulit alhasil kita terbiasa ambil cara mudahnya saja yakni dengan melihat harga yang ditetapkan secara umum. Misal seperti List update harga harian Antam. Perlu diingat, list harga seperti itu ada kalanya tidak bisa mencerminkan harga wajar dari suatu komoditi itu sendiri. Bisa saja harga itu berisi bumbu perang nilai antar beberapa brand emas. Sederhananya, daftar harga emas merek A dan merek B saja bisa berbeda meski kandungan dan berat emasnya sama. Dari sini saja kita bisa tahu, berarti nilai harga itu sangat mungkin dipengaruhi oleh hal-hal yang di luar dari nilai wajarnya.

Sampai sini kita mungkin mulai bingung terkait bagaimana menakar kisaran harga wajar emas yang sesungguhnya. Tetapi untungnya ada secercah harapan di tengah kekalutan ini. Mungkin karena Emas adalah "God’s Money", jadi Tuhan telah memberikan panduan-Nya langsung melalui kisah utusan-Nya (Nabi Muhammad saw) berabad-abad silam yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa nilai dari satu Dinar (4, 25 gram emas) secara umum mampu mengimbangi harga satu ekor domba.
 
Dalam sebuah potongan hadits shahih Bukhari yang diriwayatkan dari 'Urwa: "Bahwa Nabi memberinya satu Dinar untuk membeli domba untuk beliau. 'Urwa membeli dua ekor domba untuk beliau dengan uang (satu Dinar) tersebut. Kemudian dia menjual satu ekor domba seharga satu Dinar, dan membawa satu Dinar tersebut bersama satu ekor dombanya kepada Nabi. Atas dasar ini Nabi berdoa kepada Allah untuk memberkahi transaksi 'Urwa. Sehingga 'Urwa selalu memperoleh keuntungan (dari setiap perdagangannya)..."

Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa angka satu Dinar yang kemudian dijadikan tolak ukur, padahal dalam kisah tersebut ‘Urwa (orang yg diamanatkan untuk membeli domba) bahkan berhasil mendapatkan dua ekor domba hanya dengan satu Dinar. Untuk lebih memahaminya saya menyarankan membaca lebih lanjut artikel berjudul "Menjadikan Dinar Sebagai Alat Transaksi" pada laman hidayatullah.com. Sederhananya, uang satu Dinar milik Nabi yang diamanatkan kepada 'Urwa pada waktu itu sebenarnya diperuntukkan untuk mencari domba yang akan dikurbankan oleh Nabi. Adapun mengapa 'Urwa berhasil mendapatkan dua ekor hanya dengan bermodal satu Dinar, itu tak lepas dari kepiawaian 'Urwa dalam berniaga. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Nabi selalu memilih domba dengan kualitas terbaik untuk dijadikan sebagai kurban. Maka dari itu, bisa sedikit kita simpulkan bahwa satu Dinar (4, 25 gram emas) setara dengan harga domba kualitas terbaik. 
Hadits di atas memang tidak menjelaskan secara jelas mengenai berapa standar bobot ukuran sebaiknya untuk domba kurban agar dapat dikatakan baik sesuai tuntunan. Namun jika kita menengok pada standarisasi bobot yang digunakan lemaga seperti Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), maka kita akan mendapai angka bobot standar domba kurban berkisar antara 20 hingga 22 kilogram. 

Sekarang mari kita tengok, berapa perkiraan harga domba kurban kualitas baik (yang bobotnya minimal dua kali lipat dari bobot standar yang disarankan Baznas) di tahun ini? Pada saat tulisan ini dibuat (18 Januari 2026) diketahui bahwa harga untuk varian domba berkualitas superior (bobot 55 kg) menyentuh harga tertinggi Rp 5.773.000,- (sumber: shopee).

Baiklah, anggap kita menggunakan acuan angka Rp. 5.775.000 untuk membulatkan harga seekor domba kurban kualitas terbaik tadi. Jika satu Dinar/4, 25 gram emas itu setara dengan Rp. 5.775.000, maka kita bisa mendapatkan harga emas per gram nya berada di angka Rp 1.358.823,- (kita bulatkan menjadi Rp. 1.360.000).

Sekarang mari kita tengok berapa harga 1 gram emas saat ini? Per tanggal 18 Januari 2026, harga dasar (harga sebelum pajak) untuk tiap 1 gram emas batangan mencapai Rp. 2.663.000,- (sumber: logammulia.com). Dari sini kita semua bisa sedikit menyimpulkan, jika mengacu pada standar nilai wajar yang berdasar pada hadits di atas, maka bisa dikatakan jika harga emas hari ini tengah overvalued.

Lalu apakah kita harus menunggu harga emas sesuai dengan harga wajarnya lebih dulu untuk membeli emas? Jawabanya tidak harus. Alasan sederhananya karena track record harga emas yang jarang sekali turun jika sudah naik. Selain itu, seperti yang kita tahu, emas saat ini sudah menjadi komoditi, akan sulit menunggu emas mencapai harga wajar, mentok-mentok mungkin hanya mendekati harga wajarnya saja. 

Pada akhirnya, mau membeli sambil menunggu timing mendekati harga wajar ataupun membelinya tanpa mempertimbangkan harga wajar, itu semua keputusan kita masing-masing. Yang jelas, satu-satunya waktu terbaik untuk membeli emas adalah ketika ada uangnya. Hehehe. Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment